Kemarin..
Kulihat awan berarak tak beraturan.
Memaksa gumpalannya menurunkan butiran bening.
Kurasakan butiran bening juga membasahi kedua pipiku.
Bersama derasnya hujan yang akhirnya turun, fikiran ini memaksaku mengingat masa-masa itu
Kulihat awan berarak tak beraturan.
Memaksa gumpalannya menurunkan butiran bening.
Kurasakan butiran bening juga membasahi kedua pipiku.
Bersama derasnya hujan yang akhirnya turun, fikiran ini memaksaku mengingat masa-masa itu
Masa-masa dimana hanya indah saja yang ku tau.
Tentang apa apa yang kau ajarkan padaku
Tentang kesempurnaan rasa yang selalu kau persembahkan.
Tentang tatap mata yang tulusnya kian membara.
Tentang sebuah pengorbanan yang tak terperikan.
Layang lamunanku kian mantap selaras dengan sosokmu yang kian jelas bersarang dibenakku
Tentang ketegasan sikapmu.
Tentang kelembutan perangaimu.
Tentang sosokmu yang penuh keteladanan.
Begitu banyak hal ingin kuceritakan padamu
Diteras depan rumah,
Ditemani teh, biskuit kesukaan kita dan
Berbicara panjang lebar.
Tentang semua yang ku alami selama ini,
Tentang waktu yang selalu membuatku merasa tak berdaya,
Tentang segala sesuatu yang mendesakku untuk menjadi dewasa.
Atau tentang apa saja.
Hingga rindu ini sudah tak tebendung lagi
Nyata ingatanku tentang segala yang pernah kita lewati dulu.
menit ini..
Hujan memang sudah berhenti membasahi bumi.
Namun bayang tentangmu tak pernah padam dari kobar ingatanku.
Meski raga kita akhirnya harus terpisah jauh untuk sementara waktu
Namun lisan ini tak kunjung henti lantunkan bait indah untukmu.
Biarkan doa ini menjadi payung bagi hujan-hujan rindu yang menyergapku
Biarkan doa ini menjadi kekuatan yang mendekapku kala sosokmu sudah tak lagi dapat kusentuh.
Meski kau tak pernah tau apa yang terjadi denganku kini, namun ku yakin kau telah menitipkanku pada Tuhan mu.
Kau tetap cinta pertamaku,
dan aku
akan tetap menjadi putri kecilmu.
(Bekasi, 2018)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar