Kamis, 30 Maret 2017

di suatu senja..





Seiring senja yang kian menutup hari, bersiap bergegas berganti tugas dengan sang malam..
“senja selalu bisa membuat takjub” Rully memulai percakapannya seperti biasa.
“kadang kita harus mampu menjadi seperti senja” sambungnya, “indah.. menenangkan”
“jadi senja? Indahnya kan Cuma sementara. Macam pelangi” sambut Kara, sahabatnya.
Tak ada obrolan beberapa detik kemudian. Hanya ada mata yang saling memandang ke langit.
“kau tidak berminat menjawab pertanyaanku?” Kara sedikit mendesak.
“coba kamu lihat deh. Warna jingganya selalu dapat membuat mata kita menatap tanpa merasa silau karena cahayanya” jawab Rully tanpa bergeming dari tatapannya ke langit
“meski tau bahwa ia hanya sementara, tapi senja selalu bisa menampakkan keindahannya yang hanya dia yang punya. Padahal sebentar lagi ia harus benar-benar terbenam dan digantikan oleh malam”
Kara menatap sahabatnya yang masih menatap ke arah langit.
“Rul?”
“iya?”
“kenapa sih Allah menciptakan sesuatu yang indah hanya sementara? Yang hanya dapat menikmatinya sekejap saja”
Rully bergeming. Dia mengalihkan tatapannya kepada sahabatnya. Dia tau bahwa Kara tak benar-benar bertanya.
“aku selalu bahagia dengan keindahan yang dapat ku nikmati secara gratis didunia ini. Tapi ada yang lebih membuatku bahagia. Kau tau apa?”
Kara diam saja
“ketika Allah memberikan aku berbagai macam cobaan hidup”
Kara masih diam, namun dengan ekspresi wajah berbeda. “cobaan?”
“Kau tau tidak, bahwa seseorang tidak akan naik kelas kalau belum melewati ujian dengan nilai yang baik. Dan aku selalu yakin, bahwa apapun ujian hidup yang aku hadapi adalah cara Allah menaikkan levelku”
“dengan begitu, aku bisa bebas bermesraan dengan Nya. Mengais kasih sayangNya, dan mohon ampun sebanyak-banyaknya”
Kara memandang sahabatnya dengan senyum khasnya. Yang ditatap membalas senyum dan kembali menatap senja
“Allah itu baik banget loh Ra. Aku selalu takjub atas kasih sayang Nya yang tiada henti. Padahal aku banyak banget dosanya. Tapi Allah masih nutupin aib-aib ku. Allah baik banget kan?”
“dan senja ini,” lanjutnya “salah satu dari banyak pesona yang Ia ciptakan yang mengajarkanku banyak hal.”
“meski hanya sementara, indah saja yang ia tampilkan. Meski hanya sekejap dan akan tergantikan oleh malam, ia tetap mau hadir untuk menenangkan mata yang memandangnya”
“bukan kah hidup harus seperti itu? Memberikan yang terbaik yang kita punya meski kita tau bahwa kita hanya sementara di dunia ini. Totalitas dengan kebaikan apapun terutama dalam beribadah kepada Nya”
Senyum dibibir Kara makin melebar. Selalu. Ada sisi yang bisa ia kagumi dari sosok sahabatnya ini.
“bagaimana bisa aku melewati senja disetiap harinya, jika dengan melihatnya makin menambah ketakwaan ku pada Allah” seakan tak mau kalah dari Rully. “pasti kau akan mengatakan itu”
Rully tersenyum sambil merangkul sahabatnya itu.
“dalam keadaan apapun, jangan pernah jauh-jauh dari Allah. Karena dengan Nya, semua akan baik-baik saja”

Keduanya saling melempar senyum, kemudian kembali menatap senja sembari mensyukuri keindahannya yang selalu meneduhkan.


tanpa skenario, mohon maaf jika ada kesamaan nama.

300317,
si pengagum senja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar