“setiap orang itu bisa berubah
dik”
“termasuk hati-hati kita”
lanjutnya.
“tapi, kenangannya tidak akan
pernah berubah kan kak?” tanya sang adik sambil menatap kosong kapada sang
kakak.
Sang kakak hanya tersenyum memandang adiknya.
“aku merindukan kenangan-kenangannya
kak. Salahkah?”
“tidak ada yang salah dengan
sebuah kerinduan. Tapi kau harus memahami, serindu apapun yang kau rasakan tak
kan bisa membuat kenangan-kenangan itu kembali.”
“kita hanya perlu bersyukur. Atas
orang-orang yang pernah mengisi hari-hari kita, atas kejadian-kejadian dan
kenangan-kenangan yang ada didalamnya. Yang terpenting, kau harus mengikhlaskan
itu semua.” Lanjut sang kakak.
“bagaimana caranya agar aku bisa
ikhlas? Sedangkan semuanya berputar dengan rapih difikiranku.” Lirihnya.
“dik.. “ sang kakak mengusap
kepala adiknya.
“setiap apa yang yang terjadi
dalam hidup kita tidak serta merta kebetulan semata. Kau tau? Allah sangat amat
apik mengatur segala sisi kehidupan kita hingga mungkin kita tak pernah
membayangkan apa ujung dari rentetan takdirNya”
“kak, tapi aku rindu” ada yang
keluar dari bening matanya.
“tidak mengapa dik, itu tandanya
kau mensyukuri setiap moment yang Allah gariskan untukmu”
“tapi aku tak bisa berbuat
apa-apa atas kerinduanku. Aku merasa lemah setiap kali mengingatnya kak.” kini
pipinya sudah basah.
Sang kakak membiarkan adiknya
menangis.
“menangislah dik, tak ada yang
salah dari tangisanmu.”
Sang adik masih menutup wajahnya
dengan kedua tangannya.
“adikku..” sang kakak menatap
mata adiknya.
“ada hal yang harus ada didalam
diri kita dalam menghadapi hidup ini. Sabar dan syukur serta keikhlasan.” “Allah
sudah menuliskan segala kejadian yang akan terjadi dalam hidup kita. Termasuk
yang kau alami kini. Kau begitu menikmati masa-masa yang kini kau rindukan kala
itu bukan? Lantas jika hal itu sudah tak lagi dalam genggaman mu, kau mau marah
dengan siapa?”
“Dik.. kau pasti sangat memahami
bahwa tak ada tempat pengharapan paling sempurna selain pengharapan pada Nya.
Kita sudah amat sering diskusi mengenai ini. Sekarang kita sama-sama
aplikasikan dalam kehidupan kita. Kau percayakan bahwa Allah tak akan pernah
mengecewakan hamba Nya. Termasuk kamu, dik”
“coba lihat segalanya dari sisi
lain. Jangan selalu menanggap bahwa kita lah yang paling terpuruk di dunia ini.
Masih amat banyak kesempatanmu untuk mengembangkan diri dibanding terus menerus
meratapi hal ini.”
“berdoa sama Allah.. akui bahwa
diri kita memang lemah. Minta.. biar dikasih ikhlas. Gak perlu dilupain, yang
penting gak perih kalau kamu inget kenangan-kenangan itu lagi. Minta dikasih
sabar biar proses ngikhlasinnya juga enak.”
“kita memang tidak memiliki
kekuatan apa-apa dik, bahkan atas diri kita sendiri. Tapi, Allah pasti punya
tujuan atas apa yang ditakdirkan ke kamu. Kamu akan semakin dewasa dalam
menyikapi setiap permasalahan dalam hidup mu. Jangan sedih terus, nanti cantik
nya hilang loh.” Ucap panjang lebar sang kakak berusaha menenangkan.
“kakak...............” sang adik
langsung memeluk kakaknya.
“target capaian hidup kamu masih
banyak yang belum dicoret dari list. Fokus kesana aja yuk. Yang berlalu biarkan
aja berlalu, Allah Maha Baik. Sesuatu yang ditakdirkan untuk kita gak akan
pernah tertukar. kalaupun akhirnya itu bukan milik kita, pasti Allah ganti
dengan yang jauuuuh lebih indah. Kuncinya.. sabar dan syukur serta ikhlas. Kamu
harus percaya itu.”
“intinya, jangan jauh-jauh dari
Allah. Jangan lupa minta sama Allah. Kalau lagi merasa lemah, inget Allah. Karena
Cuma Allah yang bisa bikin semua akan baik-baik saja dan terus berbaik sangka sama takdirnya Allah buat kamu.”
Sang kakak balik memeluk adiknya
dengan erat.
Air mata sang adik membasahi kaos
hitam kakaknya.
“gak apa dilanjut aja nangisnya. Tapi
kamu harus janji sama diri kamu sendiri, ini tangisan kamu yang terakhir untuk
hal ini. Sepakat?” sang kakak melepaskan pelukan dan menatap adiknya.
“bantu aku kak. Sering-sering
kasih aku nasehat.”
“sibukin diri sama hal-hal
positif ya. Potensi kamu besar, banyak banget yang masih butuhin sosok kamu. Sekeras
apapun kakak bantu kamu kalau dari diri kamunya gak ada kemauan untuk
mengikhlaskan itu, ya tetap aja nol.”
“iya kak aku mau. Tapi aku butuh
dukungan orang-orang disekitar aku. Termasuk kakak.”
“siap tuan putri! Kakak akan bantu
kamu semaksimal yang kakak bisa.”
“kak.. makasih banyak ya. Maafin aku
yang cengeng dan lemah ini.”
“sudah sudah.. senyum dulu dong.”
Sang adik pun tersenyum dengan
mata yang masih sembab.
“sekarang cuci muka. Kita beli
eskrim. Mau?”
“iya kak. Aku mau.”
sang adik tak pernah merasa kehilangan kasih sayang kakaknya.
Sang kakak selalu bisa menenangkan
adik tersayangnya.
cerita ini terlintas begitu saja, mohon maaf jika ada kesamaan kejadian
240417
Di penghujung hari Senin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar