Senin, 24 April 2017

kenangan itu....



“setiap orang itu bisa berubah dik”

“termasuk hati-hati kita” lanjutnya.

“tapi, kenangannya tidak akan pernah berubah kan kak?” tanya sang adik sambil menatap kosong kapada sang kakak.

 Sang kakak hanya tersenyum memandang adiknya.

“aku merindukan kenangan-kenangannya kak. Salahkah?”


“tidak ada yang salah dengan sebuah kerinduan. Tapi kau harus memahami, serindu apapun yang kau rasakan tak kan bisa membuat kenangan-kenangan itu kembali.”

“kita hanya perlu bersyukur. Atas orang-orang yang pernah mengisi hari-hari kita, atas kejadian-kejadian dan kenangan-kenangan yang ada didalamnya. Yang terpenting, kau harus mengikhlaskan itu semua.” Lanjut sang kakak.

“bagaimana caranya agar aku bisa ikhlas? Sedangkan semuanya berputar dengan rapih difikiranku.” Lirihnya.

“dik.. “ sang kakak mengusap kepala adiknya.

“setiap apa yang yang terjadi dalam hidup kita tidak serta merta kebetulan semata. Kau tau? Allah sangat amat apik mengatur segala sisi kehidupan kita hingga mungkin kita tak pernah membayangkan apa ujung dari rentetan takdirNya”

“kak, tapi aku rindu” ada yang keluar dari bening matanya.

“tidak mengapa dik, itu tandanya kau mensyukuri setiap moment yang Allah gariskan untukmu”

“tapi aku tak bisa berbuat apa-apa atas kerinduanku. Aku merasa lemah setiap kali mengingatnya kak.” kini pipinya sudah basah.

Sang kakak membiarkan adiknya menangis.

“menangislah dik, tak ada yang salah dari tangisanmu.”

Sang adik masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“adikku..” sang kakak menatap mata adiknya.

“ada hal yang harus ada didalam diri kita dalam menghadapi hidup ini. Sabar dan syukur serta keikhlasan.” “Allah sudah menuliskan segala kejadian yang akan terjadi dalam hidup kita. Termasuk yang kau alami kini. Kau begitu menikmati masa-masa yang kini kau rindukan kala itu bukan? Lantas jika hal itu sudah tak lagi dalam genggaman mu, kau mau marah dengan siapa?”

“Dik.. kau pasti sangat memahami bahwa tak ada tempat pengharapan paling sempurna selain pengharapan pada Nya. Kita sudah amat sering diskusi mengenai ini. Sekarang kita sama-sama aplikasikan dalam kehidupan kita. Kau percayakan bahwa Allah tak akan pernah mengecewakan hamba Nya. Termasuk kamu, dik”

“coba lihat segalanya dari sisi lain. Jangan selalu menanggap bahwa kita lah yang paling terpuruk di dunia ini. Masih amat banyak kesempatanmu untuk mengembangkan diri dibanding terus menerus meratapi hal ini.”

“berdoa sama Allah.. akui bahwa diri kita memang lemah. Minta.. biar dikasih ikhlas. Gak perlu dilupain, yang penting gak perih kalau kamu inget kenangan-kenangan itu lagi. Minta dikasih sabar biar proses ngikhlasinnya juga enak.”

“kita memang tidak memiliki kekuatan apa-apa dik, bahkan atas diri kita sendiri. Tapi, Allah pasti punya tujuan atas apa yang ditakdirkan ke kamu. Kamu akan semakin dewasa dalam menyikapi setiap permasalahan dalam hidup mu. Jangan sedih terus, nanti cantik nya hilang loh.” Ucap panjang lebar sang kakak berusaha menenangkan.

“kakak...............” sang adik langsung memeluk kakaknya.

“target capaian hidup kamu masih banyak yang belum dicoret dari list. Fokus kesana aja yuk. Yang berlalu biarkan aja berlalu, Allah Maha Baik. Sesuatu yang ditakdirkan untuk kita gak akan pernah tertukar. kalaupun akhirnya itu bukan milik kita, pasti Allah ganti dengan yang jauuuuh lebih indah. Kuncinya.. sabar dan syukur serta ikhlas. Kamu harus percaya itu.”

“intinya, jangan jauh-jauh dari Allah. Jangan lupa minta sama Allah. Kalau lagi merasa lemah, inget Allah. Karena Cuma Allah yang bisa bikin semua akan baik-baik saja dan terus berbaik sangka sama takdirnya Allah buat kamu.”

Sang kakak balik memeluk adiknya dengan erat.

Air mata sang adik membasahi kaos hitam kakaknya.

“gak apa dilanjut aja nangisnya. Tapi kamu harus janji sama diri kamu sendiri, ini tangisan kamu yang terakhir untuk hal ini. Sepakat?” sang kakak melepaskan pelukan dan menatap adiknya.

“bantu aku kak. Sering-sering kasih aku nasehat.”

“sibukin diri sama hal-hal positif ya. Potensi kamu besar, banyak banget yang masih butuhin sosok kamu. Sekeras apapun kakak bantu kamu kalau dari diri kamunya gak ada kemauan untuk mengikhlaskan itu, ya tetap aja nol.”

“iya kak aku mau. Tapi aku butuh dukungan orang-orang disekitar aku. Termasuk kakak.”

“siap tuan putri! Kakak akan bantu kamu semaksimal yang kakak bisa.”

“kak.. makasih banyak ya. Maafin aku yang cengeng dan lemah ini.”

“sudah sudah.. senyum dulu dong.”

Sang adik pun tersenyum dengan mata yang masih sembab.

“sekarang cuci muka. Kita beli eskrim. Mau?”

“iya kak. Aku mau.”
sang adik tak pernah merasa kehilangan kasih sayang kakaknya.

Sang kakak selalu bisa menenangkan adik tersayangnya.

cerita ini terlintas begitu saja, mohon maaf jika ada kesamaan kejadian
240417
Di penghujung hari Senin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar