Minggu, 24 November 2019

untuk kau, diriku.






Pada beberapa ketentuan, kita dipaksa menjadi kuat dan berhati tegar
Pada beberapa lembar takdir, kita dituntut kokoh berdiri ditengah angin yang cukup kencang menderai
Suatu ketika, kita seolah menjadi manusia yang tahan banting disegala kondisi meski tak tau lagi bagaimana bentuk hati

Dengan segenap sisa tenaga, senyum itu harus terus terpancar
Dikala tak ada satupun yang peduli pada lukamu, disaat segala kekhawatiranmu memuncak tidakkah kau sadar ada Yang Selalu Memperhatikanmu?
Ketika kau mulai merasa perih kala duri pada sandaranmu mulai menusuk bahu, ada yang Selalu Menyayangimu bahkan ketika kau lupa untuk bersandar pada Nya

Kau bisa menutupi segala lukamu, kau bisa membalutnya dengan kepurapuraanmu tapi dirimu berhak bahagia atas segala jerih payah itu.
Tak mengapa jika lelah, tak mengapa jika takut. Tumpahkan jika air itu tak mampu lagi terbendung. Namun jangan pernah luput bahwa ada Curahan Kasih Sayang yang selalu menuju kepadamu. Ada Dzat yang selalu merindu rintihanmu, ada Ia yang selalu tau apa yang menjadi kebutuhanmu. Dia Yang Selalu Menguatkanmu.

Bahagiamu akan terpancar ketika kau tak berharap penilaian manusia atas apa yang kau upayakan.
Segala harapmu hanya boleh kau sandarkan pada Nya agar kau tidak perlu menyiapkan ruang kekecewaan dihatimu.
Segala ekspektasimu hanya boleh kau lebur dalam munajatmu, karena terkadang yang harus dimaksimalkan bukan suaramu, namun upayamu.

Maka pada beberapa ketentuan dan rentetan takdir yang berjalan beriringan dengan langkahmu, yang kau butuhkan adalah penerimaan yang utuh.

Untuk kau, diriku.


24/11/19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar