Senin, 13 Januari 2020

Amanah dan Ukhuwah



Sejatinya hidup adalah sebuah pembebanan. Pundak kita dituntut untuk tetap kuat meski lelah tak kunjung reda. Namun, betapa Allah memberikan berbagai pertolongan dari setiap pembebanan yang ditimpakan kepada diri hingga secara sadar maupun tidak, satu persatu berbagai beban yang dirasa sulit ditaklukan di awal mampu terembani dengan perasaan yang bercampur haru.


Mungkin ada banyak tetesan keringat dan air mata yang berderai mengiringi langkah demi langkah dalam penuntasan setiap keputusan Nya, berusaha tegar ditengah banyak godaan yang sering membuat langkah tersandung bahkan tak jarang jatuh. Beberapa ada yang memutuskan menepi namun tak sedikit yang mau bangkit untuk meneruskan apa yang sudah terlanjur di mulai. Barangkali, yang selama ini menganggap diri lemah memang bukan siapa-siapa jika bukan Allah yang kembali menopang. Barangkali, diri ini memang sudah Allah desain sedemikian rupa agar setiap pembebanan yang diberikan mampu dituntaskan dengan lega.

Kabar bahagia selanjutnya, selalu ada teman dalam setiap perjalanan. Akan ada kebahagiaan yang Allah kirimkan dalam wujud manusia untuk menyisihkan sedikit banyak pembebanan dalam perjalanan. Saudara seiman yang ikatannya Allah kuatkan dalam setiap robithoh, yang setiap temunya mampu mengembalikan semangat yang hampir hilang, yang setiap sapanya mengantarkan keceriaan dan kesejukan dan yang paling penting, bersamanya semakin meningkatkan keimanan kita terhadap Nya. Manusia-manusia yang Allah kirimkan khusus untuk menemani perjalanan kita, yang menuntun kita kala tersesat, menopang kita saat terjatuh, menyediakan minum saat kita dahaga dan memberikan senyuman disaat kita mulai patah.

Sejatinya, tak patut kita merasa takut akan setiap pembebanan dalam perjalanan luar biasa yang kita dapati. Kawan sejati, saudara seiman akan terus berdatangan menemani atau sekedar memberi sapaan tulus untuk menguatkan kita disini.

Maka, untuk semua yang sudah pernah dilalui bersama, kamu, yang sudah mau berjalan beriringan, menemani tiap tapak dengan penuh kesabaran, memilih untuk tetap bertahan ketika banyak yang menghetikan perjuangan, membulatkan tekad untuk bangkit bersama ketika banyak batu ditengah perjalanan, tetap menggenggam erat meski lelah terus menderu tanpa berkesudahan dan setia menyediakan senyuman terindah meski hati sudah tak tau lagi bagaimana keadaannya,

Terima kasih yang tak terhingga.

Ku pastikan rindu itu telah hadir bahkan disaat kita belum benar-benar tak saling tatap.
Tapi bukankah sebaik-sebaiknya kerinduan adalah ketika kita saling menengadahkan tangan, memuji Nya dan saling mendoakan?

maka kawan, teruslah disini, dengan kesabaran yang luar biasa, dengan keikhlasan yang tak pernah patah.
Teruslah saling mengingatkan bahwasannya tetap Allah menjadi sebaik-baik tujuan.

Dan hei, bukankah setelah satu pembebanan yang berhasil dilewati, akan kembali Ia hadirkan pembebanan selanjutnya sesuai kapasitas diri?


-nia, 
13 Januari 2020. 19.47

2 komentar: