Sejatinya hidup adalah sebuah pembebanan. Pundak kita dituntut untuk tetap kuat meski lelah tak kunjung reda. Namun, betapa Allah memberikan berbagai pertolongan dari setiap pembebanan yang ditimpakan kepada diri hingga secara sadar maupun tidak, satu persatu berbagai beban yang dirasa sulit ditaklukan di awal mampu terembani dengan perasaan yang bercampur haru.
Mungkin
ada banyak tetesan keringat dan air mata yang berderai mengiringi langkah demi
langkah dalam penuntasan setiap keputusan Nya, berusaha tegar ditengah banyak
godaan yang sering membuat langkah tersandung bahkan tak jarang jatuh. Beberapa
ada yang memutuskan menepi namun tak sedikit yang mau bangkit untuk meneruskan
apa yang sudah terlanjur di mulai. Barangkali, yang selama ini menganggap diri
lemah memang bukan siapa-siapa jika bukan Allah yang kembali menopang.
Barangkali, diri ini memang sudah Allah desain sedemikian rupa agar setiap
pembebanan yang diberikan mampu dituntaskan dengan lega.
Kabar
bahagia selanjutnya, selalu ada teman dalam setiap perjalanan. Akan ada
kebahagiaan yang Allah kirimkan dalam wujud manusia untuk menyisihkan sedikit
banyak pembebanan dalam perjalanan. Saudara seiman yang ikatannya Allah kuatkan
dalam setiap robithoh, yang setiap temunya mampu mengembalikan semangat yang
hampir hilang, yang setiap sapanya mengantarkan keceriaan dan kesejukan dan
yang paling penting, bersamanya semakin meningkatkan keimanan kita terhadap
Nya. Manusia-manusia yang Allah kirimkan khusus untuk menemani perjalanan kita,
yang menuntun kita kala tersesat, menopang kita saat terjatuh, menyediakan
minum saat kita dahaga dan memberikan senyuman disaat kita mulai patah.
Sejatinya,
tak patut kita merasa takut akan setiap pembebanan dalam perjalanan luar biasa
yang kita dapati. Kawan sejati, saudara seiman akan terus berdatangan menemani
atau sekedar memberi sapaan tulus untuk menguatkan kita disini.
Maka,
untuk semua yang sudah pernah dilalui bersama, kamu, yang sudah mau berjalan
beriringan, menemani tiap tapak dengan penuh kesabaran, memilih untuk tetap
bertahan ketika banyak yang menghetikan perjuangan, membulatkan tekad untuk
bangkit bersama ketika banyak batu ditengah perjalanan, tetap menggenggam erat
meski lelah terus menderu tanpa berkesudahan dan setia menyediakan senyuman
terindah meski hati sudah tak tau lagi bagaimana keadaannya,
Terima
kasih yang tak terhingga.
Ku
pastikan rindu itu telah hadir bahkan disaat kita belum benar-benar tak saling
tatap.
Tapi
bukankah sebaik-sebaiknya kerinduan adalah ketika kita saling menengadahkan
tangan, memuji Nya dan saling mendoakan?
maka kawan,
teruslah disini, dengan kesabaran yang luar biasa, dengan keikhlasan yang tak
pernah patah.
Teruslah
saling mengingatkan bahwasannya tetap Allah menjadi sebaik-baik tujuan.
Dan
hei, bukankah setelah satu pembebanan yang berhasil dilewati, akan kembali Ia
hadirkan pembebanan selanjutnya sesuai kapasitas diri?
13 Januari 2020. 19.47

Baarakallahu fiik :")
BalasHapusWa fii barakallahu irna:)
BalasHapus