Jumat, 05 Agustus 2016

Amal Jama'i. Menyeru Bersama, Bahagia Bersama

Dan hendaklah ada dikalangan kamu segolongan umat yang menyeru pada kebaikan, menyuruh pada ma’aruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran:104)

Berdakwah atau bahasa entengnya menyeru manusia kepada kebaikan merupakan kewajiban kita sebagai ummat muslim. Karena pada dasarnya setiap kita adalah dai, adalah penyeru kepada kebaikan bagi saudara kita. Setiap kita diamanahi saudara kita untuk bisa kita ajak menuju jalan kebaikan. Mengapa sih kita harus saling menasihati kepada kebaikan dan kesabaran? Memang apa yang sudah kita punya sehingga dengan mudahnya menasehati atau mengajak orang lain pada jalan kebaikan?

Pertanyaan diatas mungkin sering kita jumpai kala banyak cemoohan yang kita temui ketika mengajak saudara kita pada kebaikan. Mengajak solat misal. Ada saja yang menjudge kita sok suci lah, sok alim lah dan sok sok yang lainnya. Padahal, setiap manusia memang tidak ada yang sempurna bukan? Sembari mengajak saudara kita, sembari juga kita proses memperbaiki diri. Jadi sama-sama berproses deh, hehe.

Well, dengan banyaknya ladang dakwah yang harus kita hadapi maka perlu lah kita untuk beramal jama’I atau beramal secara bersama. Dalam ayat tersebut Allah telah mengisyaratkan tentang wajibnya melaksanakan dakwah secara bersama(berjemaah) atau melaksanakan aktivitas bersama(Amal Jama’i). Sebab ikhtiar perseorangan dengan cara  sendiri tidak akan mampu memikul segala tugas dan tanggungjawab dakwah dan tidak akan berdaya melaksanakan segala tuntutan perjuangan dakwah.

Dalam buku “Amal Jama’I” karya As-Syaikh Mushthafa Masyhur, Amal jama’I dalam sebuah organisasi maupun kehidupan bersosialpun menjadi sesuatu yang dianjurkan. Aktivitas amal jama’I harus merupakan hasil keputusan bersama yang selini dengan system yang telah ditentukan bersama pula. Ada beberapa ciri-ciri dari amal jama’I itu sendiri :
1.  Aktivitas yang akan dijalankan harus bersumber dari keputusan atau persetujuan jamaah.
2. Jamaah yang dimaksudkan, harus mempunyai Anggaran Dasar dan pengurusan yang tersusun rapi.
3.  Setiap tindakan dan akivitinya harus sesuai dengan dasar atau strategi atau pendekatan yang telah digariskan oleh jamaah.
4.  Seluruh tindakannya harus bertujuan untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan bersama.

Banyaknya tanggung jawab dakwah yang harus diemban oleh kita sebagai dai membuat kita harus siap mengisi post-post dakwah agar tercapai objektifitas dakwah yang dikehendaki yang tentunya sesuai dengan hasil keputusan jamaah. Di samping itu setiap anggota yang menjalankan aktivitas dakwah ini harus berlandaskan niat yang ikhlas, yaitu bertujuan semata-mata  mencari keredhaan Allah. Sebab, anggota Gerakan Islam dalam beribadat kepada Allah seperti melaksanakan kegitan dakwah baru akan diterima amalnya bila disertai dengan niat yang ikhlas kerana Allah semata-mata.
Dalam berorganisasi tentunya, segala sesuatu harus diatur secara rapid an disiplin. Begitupun dengan ber amal jama’i. harus ada ketua atau pemimpin yang mengoordinir suatu amal jama’I ini agar teratur dan rapih. Maka, sudah menjadi kewajiban bagi anggota untuk taat dan mematuhi segala yang telah ditetapkan bersama selama keputusan itu masih sesuai syariat Allah.

Sebagai  manifestasi  ciri-ciri  pengorganisasian  yang  paling  jelas  dan  perlu mendapat perhatian, adalah  melalui dasar-dasar berikut.
- Bekerja keras, serius, gigih dan potential dalam menjalankan seluruh tugas.
- Pengurusan yang rapi dan sistematik, serta disiplin yang tinggi ala ketenteraan.
- Petunjuk pelaksanaan kerja yang jelas.
- Pembahagian tanggungjawab  yang jelas bagi  masing-masing  pimpinan.
- Menentukan sistem komunikasi anggota dan pimpinan yang bertanggungjawab  di peringkat  kepimpinan  masing-masing.
- Komitmen penuh dengan apa yang telah ditetapkan oleh jamaah melalui pihak-pihak  yang bertanggungjawab  terhadapnya.

Pemimpin dalam sebuah aktiitas amal jama’I memiliki tanggung jawab yang besar karena aktivitas dakwah ini bersentuhan langsung dengan syariat Allah. Kepatuhan dan kesetiaan dari para anggotanya juga harus berdasarkan kepatuhan kepada Allah. Maka pemimpin dalam sebuah amal jama’I bukanlah seorang yang mementingkan dirinya sendiri maupun seorang diktator.   Jika  semua  pihak,  baik  pucuk  pimpinan  atau  pun  anggota  gerakan mengambil bagian dan menjalankan peranan masing-masing Insya-Allah semuanya akan mendapatkan pahalanya.
Syarat  mutlak  yang  harus  ada  dalam  suatu  gerakan  bersama  yang  sistematik, ialah adanya rencana kerja, program dan aktiviti sesuai dengan sistem atau anggaran dasar  yang telah digariskan oleh organisasi. Yang  dimaksudkan  dengan sistem disini  ialah  dasar  atau  polisi  yang  hendak ditentukan dalam  masalah-masalah:
• Dasar wasilah dakwah.
• Mentukan strategi sesuai dengan tahap perjalanan dakwah atau marhalah dakwah.
• Dasar tema dakwah.
• menentukan metode pendekatan dakwah atau kaifiah dakwah.

Ada hal menarik dalam point 4, yakni pendekatan kita terhadap objek dakwah kita yang mana itu adalah saudara kita sendiri. Dakwah fardhiyah atau pendekatan pribadi merupakan salah satu cara pendekatan dakwah. Dengan berbagai macam karakteristik saudara-saudara kita, maka treatment yang disuguhkan juga harus berbeda sesuai dengan kepribadian mereka. Maka, kita sebagai dai harus mencerminkan akhlak yang terpuji agar objek dakwah kita tertarik dan mampu kita ‘gaet’ untuk membersamai berbagai agenda kebaikan dakwah.

Agar seruan kebaikan kita lebih memiliki ‘isi’, maka internal dari amal jama’I itu sendiri mestilah berkualitas.
Kegiatan internal yang dapat meningkatkan kualitas anggota
Bai’ah 10 Rukun
Usrah-usrah
Wirid harian
Latihan-latihan
Qiamullail
Rihlah diniah
Kunjungi orang sakit
Membantu yang kesusahan
Melaksanakan 40 kewajiban
Melaksanakan 10 pesan keselamatan dan menjauhi  10  yang merusak
Berbuka puasa bersama
Majlis tilawah al-Quran
Keputusan yang sepakat dan jelas dari jamaah
Tidak bertentangan dengan hukum Islam
Niat ikhlas

Amal jama’i bersama akan mendatangkan hasil serta dapat mencapai tujuan dan cita-citanya apabila kegiatannya berkesinambungan. Kesinambungan kegiatan ini merupakan faktor penting baik sebelum atau sesudah tercapainya tujuan, agar kejayaan yang diraih itu dapat dipertahankan. Kegiatan yang berkesinambungan menjadi syarat penting sebelum jamaah dapat mencapai tujuannya.
Dan seperti yang kita tau, tak ada jalan yang mudah ditempuh untuk para pengajak kebaikan. Maka berbagai ancaman pasti akan kita temui.
Ancaman yang biasa dihadapi oleh setiap organisasi hingga menimbulkan krisis dan perpecahan organisasi serta merosotnya semangat anggota, bersumber pada ancaman luaran dan ancaman dalam. Namun amal jama’I selalu punya cara untuk menghadap dan mengatasi ancaman-ancaman yang ada.

Salah satu jurus mengatasi ancaman adalah adanya kerahasiaan dalam bergerak, dalam berorganisasi dan dalam kepemimpinan. Karena pada zaman nabi pun, para sahabat merahasiakan strategi-strategi perangnya kepada musuh-musuh Allah.

Selain ancaman dari luar gerakan, ancaman juga timbul dari dalam gerakan itu sendiri. Salah satu penyebabnya adalah perasaan malas dan bosan para dai itu sendiri. Karena lemahnya semangat ketika beramal jam’I membuat gerakan itu juga melemah. Hal ini dikembalikan lagi pada tujuan dan niat awal seseorang itu dalam menyeru kebaikan.
Untuk penyakit seperti ini, mengobatinya seperti berikut akan dapat menyembuhkan anggota yang dihinggapi penyakit futur, lemah emangat, malas, lesu dan bosan.
Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan disertai perasaan tunduk dan sujud, serta menghidupkan hatinya denagan keimananseraya memohon kepada Allah agar ditetapkan dalam perjuangan dakwah. Dan ini hendaklah diulang malam dan siang
Biasakan diri dengan mengingati mati dan memikirkan tentang mati. Selalu bersyukur kepada Allah kerana ditakdirkan menjadi penyeru kebaikan, sebab dalam jalan ini bere=arti mengikuti Rasulullah s.a.w  dalam dakwahnya dan menggalakkan dirinya untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Allah berfirman: 
“katakanlah! Inilah jalan(agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”(Yusuf:108)
Kebosanan, kemalasan,kelesuan dan futur kadangkala bersumber dari godaan syaitan yang meracuni hati anggota. Dan syaitan itu seperti pencuri yang disekitar hati orang mukmin yang berdakwah dijalan Allah. Syaitan mencuri keimanan mereka dan meracuninya agar berhenti berdakwah. Hati yang kosong dari iman yang sebenarnya menjadikan pemiliknya tidak mahu bergerak dan berjuang untuk Islam. Dan itu bererti syaitan telah mencapai maksudnya dan tidak perlu lagi mengambil perhatian dan mengekorinya
Syaitan mempunyai berbagai cara penipuan yang kalau ingin tahu secara detail memerlukan huraian panjang. Bagi anggota cukup menyedari akan bahaya syaitan terhadap orang-orang yang beriman seperti yang telah digambarkan oleh Allah kepada kita agar kita memohon perlindungan-Nya dari bencana dan godaan syaitan serta tipu dayanya yang terkutuk.
Jika seorang anggota merasakan dalam  dirinya perasaan lesu atau lemah semangat untuk terus bergerak, maka hendaklah ia menyedari bahawa keadaan seperti itu merupakan hasutan syaitan yang mengganggunya dari bergerak aktif. Dan syaitan itu amat membenci orang-orang yang  bergerak aktif dan selalu mencoba untuk melengahkan anggota gerakan dari perjuangan walaupun  sedetik.
Apabila seseorang anggotanya dihinggapi penyakit bosan dan futur, maka peliharalah lidahnya dan perbanyakkan  zikir, kerana syaitan kadang-kadang mendorongnya untuk membicarakan hal-hal yang batil, kemudian mendorongnya untuk berbicara tentang tindakan jamaah yang tidak baik, dasar dan strateginya yang tidak tepat  dan sebagainya yang mengakibatkan dia terjerumus dalam jurang dosa. Jika sifat demikian dilakukan terus, maka hatinya akan semakin keras dan bertambah sukar untuk diubati. Jika seseorang anggota merasakan suatu kebosanan dan  kelemahan dalam bergerak, maka segerlah ia melakukan amalan-amalan taqwa bagi dirinya;seperti menghafal ayat-ayat al-Quran, melakukan  solat sunat beberapa rakaat  secara bersendirian di rumah, atau bersedekah kepada fakir miskin, bergaul dan berbicara dengan orang-orang yang soleh atau berkunjung pada orang-orang yang teguh pendiriannya, komitmen dan aktif. Ini akan mempengaruhi terhadap jiwa anggota tersebut, kerana bergaul dengan orang-orang yang soleh, mengunjungi anggota yang komited, akan menjadi aktif kembali dan merasa ringan terhadap semua beban yang dipikulnya.

Maka, dengan beramal jama’I kewajiban dakwah yang harus kita penuhi dapat terbagi oleh saudara kita yang lain. Namun, kita harus tetap bersiap mengemban amanah dakwah itu sendiri di post manapun yang Allah kehendaki. Agar akhirnya, saudara-saudara kita dapat merasakan sentuhan kebaikan yang kita serukan. Hingga kelak, jika Allah takdirkan kita menapaki JannahNya, kita dapat melihat pula senyum bahagia saudara kita yang turut membersamai kita dalam seruan kebaikan yang Allah Ridhoi

030816
Malam sunyi Bekasi
21.14

Sumber dan inspirasi dari buku “Amal Jama’I” karya As-Syaikh Mushthafa Masyhur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar