Aku
pernah menangis sejadi-jadinya. Menangisi keadaan yang seolah tak pernah
memihak padaku.
Aku
pernah membenci diriku. Membenci kelemahan atas ketidakmampuanku merubah takdir
yang menghampiriku.
Aku
pernah meneriaki sanubariku. Seolah ia tak memperdulikan apa yang menjadi inginkan
ku.
Semakin
ku bergejolak, nuraniku semakin tak beraturan. Aku merasa tidak tenang.
Di
ambang gelisah, aku mencoba mengadu pada semesta.
Ku
tumpahkan air mataku dibawah derasnya hujan.
Ku
curahkan kebencianku pada air laut dipantai agar ia membawanya jauh larut dalam
samudera.
Ku teriakkan
kekecewaan bersama hembusan angin yang menerpa kencang wajahku.
Semakin
ku melawan, aku semakin tak berdaya dan melemah.
Semesta
seolah berbisik
Bahwa
tangisanku, kebencianku, kekecewaanku hanya akan berujung pada hati yang
semakin memburuk.
Bukan
keadaan yang tak memihak, tapi aku lah yang salah menempatkan pengharapan.
Bukan
kelemahanku yang membuat takdir tak sejalan, tapi keyakinanku pada kehendak Nya
lah yang harus diperbaiki.
Dan
bukan sanubari yang tak mengerti tiap yang ku ingini, tapi cara pandangku
terhadap apa-apa yang digariskan untuk ku yang harus ku benahi.
Bahwa
hidup adalah tentang penerimaan. Bahwa hidup adalah tentang tawakal dan
kerelaan.
Kini
ku ikhtiarkan semampuku apa-apa yang menjadi inginku.
Kini
ku pasrahkan apapun yang telah Tuhan gariskan untukku.
Kini
ku yakini bahwa Ia selalu punya rencana indah dibalik ujian yang kerap
menimpaku.
Kini
ku tumpukan segala harapku kepada Dzat Yang Maha Lembut.
Dan
semesta, selalu berbaik hati terhadapku.
Terus
ajari aku ketegaranmu hai semesta, agar tak ada lagi kekecewaan yang menjadi penghalang
syukur terhadap Rabb-ku.
Rawamangun,
030318 08.10 pm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar