Sabtu, 03 Maret 2018

Kepada Semesta







Aku pernah menangis sejadi-jadinya. Menangisi keadaan yang seolah tak pernah memihak padaku.
Aku pernah membenci diriku. Membenci kelemahan atas ketidakmampuanku merubah takdir yang menghampiriku.
Aku pernah meneriaki sanubariku. Seolah ia tak memperdulikan apa yang menjadi inginkan ku.
Semakin ku bergejolak, nuraniku semakin tak beraturan. Aku merasa tidak tenang.
Di ambang gelisah, aku mencoba mengadu pada semesta.
Ku tumpahkan air mataku dibawah derasnya hujan.
Ku curahkan kebencianku pada air laut dipantai agar ia membawanya jauh larut dalam samudera.
Ku teriakkan kekecewaan bersama hembusan angin yang menerpa kencang wajahku.
Semakin ku melawan, aku semakin tak berdaya dan melemah.

Semesta seolah berbisik
Bahwa tangisanku, kebencianku, kekecewaanku hanya akan berujung pada hati yang semakin memburuk.
Bukan keadaan yang tak memihak, tapi aku lah yang salah menempatkan pengharapan.
Bukan kelemahanku yang membuat takdir tak sejalan, tapi keyakinanku pada kehendak Nya lah yang harus diperbaiki.
Dan bukan sanubari yang tak mengerti tiap yang ku ingini, tapi cara pandangku terhadap apa-apa yang digariskan untuk ku yang harus ku benahi.
Bahwa hidup adalah tentang penerimaan. Bahwa hidup adalah tentang tawakal dan kerelaan.
Kini ku ikhtiarkan semampuku apa-apa yang menjadi inginku.
Kini ku pasrahkan apapun yang telah Tuhan gariskan untukku.
Kini ku yakini bahwa Ia selalu punya rencana indah dibalik ujian yang kerap menimpaku.
Kini ku tumpukan segala harapku kepada Dzat Yang Maha Lembut.

Dan semesta, selalu berbaik hati terhadapku.
Terus ajari aku ketegaranmu hai semesta, agar tak ada lagi kekecewaan yang menjadi penghalang syukur terhadap Rabb-ku.

Rawamangun, 030318 08.10 pm


Tidak ada komentar:

Posting Komentar